Cerita Melahirkan Anak Pertama

3/12/2018 07:50:00 PM


Alhamdulillah, telah lahir anak pertama saya dan suami. Samarinda, 14 Februari 2018 yang kami beri nama Arzan Kinza Ravindra.

Sebenarnya, Arzan diprediksi lahir tanggal 8 Februari. Tapi sampai tanggal 8 Februari yang mana usia kandungan saya sudah masuk 40 minggu itu masih saja tidak ada kontraksi. Jadilah tanggal 8 Februari, saya dan suami kontrol ke dokter kandungan kami. Karena air ketuban, plasenta dan ari-ari serta jantung bayi masih normal semua, maka dokter memberi waktu 1 minggu lagi sampai menunggu kontraksi alami itu datang. Oke, selama seminggu saya nunggu yang namanya mules-mules, hahaha. Sampai nanya ke beberapa orang, kalau mules kontraksi itu rasanya gimana? Kok saya tidak ada merasakan apa-apa yaa.. Slow aja gitu kayak belum mau lahiran.

Keluarga juga ikut menenangkan saya. "yaa mungkin dedeknya belum mau keluar, tunggu aja dulu". Saya pun jadi ikut bersugesti sendiri, kalau mungkin si bayi lagi mencari waktu yang pas, bikin mamanya latihan sabar πŸ˜„. Hari demi hari terlewati hampir satu minggu berlalu dari tanggal HPL. Campur aduk rasanya, masih bertanya-tanya juga "kenapa ini kok gak ada kontraksi yaa?". Selama seminggu juga saya dan suami bersiap dengan kemungkinan akan diinduksi kalau masih tidak ada kontraksi juga. Ya, kami masih mengusahakan agar bisa melahirkan secara normal. 

13 Februari 2018. Mulai galau juga nih si mamaknya, haha. Masuk 41 minggu tapi tetap gak merasa mules-mules atua air ketuban rembes. Sudah satu minggu berlalu dari HPL. Saya dan suami kembali ke dokter kandungan. Kata dokter, ini sudah harus diberi tindakan kalau tidak induksi ya harus operasi SC karena usia kandungan sudah mature, tidak bisa ditunda lagi untuk menunggu kontraksi alami. Oke, kami setuju dengan rujukan dokter untuk diinduksi.

Malamnya, saya bersama suami dan mertua berangkat ke rumah sakit sesuai rujukan dari dokter. Setelah diperiksi oleh bidan di sana, katanya sudah pembukaan satu. Kami diminta untuk menunggu ruangan. Tapi ternyata ruangan di sana penuh. Alhasil kami dirujuk lagi ke rumah sakit umum daerah. Kami langsung ke RSUD A.Wahab Sjahranie. Saya diperiksa lagi dengan bidan di sana, katanya belum ada pembukaan cuma baru flek aja. Lah kok beda dengan pemeriksaan sebelumnya 😨. Setelah masuk ruangan observasi, saya pikir akan langsung diinduksi tapi ternyata tidak. Menunggu beberapa jam, akhirnya rekam jantung bayi dulu. Saya sempat bertanya ke perawat "saya kapan diinduksi ya,mba?". Perawatnya bilang masih nunggu keputusan dari dokternya. Sampai pagi menjelang, saya masih belum diinduksi juga, kontraksi juga gak ada. Paginya, rekam jantung bayi lagi. Saya, suami dan mertua menunggu tindakan apa yang akan saya jalani selanjutnya. Sesekali perawat datang dan bertanya "Bu,ada mules-mules gak?". Saya jawab tidak ada,hahaha. Saya juga bingung ini kenapa gak ada mules-mules ya, sedangkan pasien ibu hamil yang disebelah saya udah merintih nahan sakit kontraksi. πŸ˜„

Setelah sarapan pagi, perawat datang dan bilang kalau saya sudah harus puasa dan dia bilang bahwa saya akan dioperasi nanti sore. Saya sempat tanya apakah tidak bisa diinduksi? Ternyata hasil rekam jantung bayi 2 kali itu menunjukkan jantung bayi yang lemah. Jadi jika diberi induksi, takutnya bayinya jadi drop. Saya dan suami mencoba untuk berbesar hati karena keinginan kami untuk bisa melahirkan secara normal ini gagal. Kami pun menyetujui tindakan operasi sesar demi bayi kami.

Dari sini saya menyadari kalau melahirkan itu poin terakhirnya adalah pasrah. Semua kembali kepadaNya, kepada ketentuanNya. Saya coba juga untuk pasrah kepada Allah. Pasrah dengan ketentuannya atas bayi saya. Saya sadar, saya hanya dititipkan bayi ini oleh Allah. Segala ketentuan, tetaplah Dia yang berkuasa. Keinginan untuk melahirkan normal ini gagal, membuat saya berpikir kembali bahwa mungkin jalan yang diinginkan si bayi adalah jalan yang lain.

Baca juga : Cerita Kehamilan Pertama

***

Melahirkan dengan Bahagia
Saya selalu ingat pesan dokter kandungan saya. Beliau bilang "Kehamilan itu dinikmati, nikmati segala prosesnya". Dari situ saya pikir kalau melahirkan juga harus dinikmati dong. Karena pasti setiap kehamilan itu punya cerita seru masing-masing.

Masuk ruang operasi pukul 16.30 wita. Saya pikir suami bisa ikut mendampingi saat persalinan, ternyata tidak. Yaah gagal deh kayak orang-orang di Instagram, bisa lahiran didampingi suami gitu hahaha πŸ˜ƒ. Alhamdulillah, masuk ruang operasi justru makin bikin semangat. Makin gak sabar untuk ketemu sang bayi. Dan Alhamdulillah lagi, operasinya tidak semenyeramkan yang diceritakan orang. hehehe.

Seru sekali proses operasi yang saya jalani. Kebetulan si dokter kandungan dan dokter anastesinya itu orang batak dan mereka memutar lagu batak selama proses operasi. Alhasil saya jadi ikutan nyanyi nyanyi juga deh. Timnya juga seru sekali, operasi sambil saling bercerita yang diselingi candaan juga. Jadi saya rasa enjoy, nikmat dan bahagia sekali menjalani proses operasi sesar.

Alhamdulillah, pukul 17.04 Wita, lahirlah Arzan disambut dengan lagu batak di ruang operasi,haha. Gak tau lagi deh untuk menggambarkan perasaan saya waktu itu. Antara badan masih kebas sama obat bius tapi perasaan ingin meluk & cium si bayi. MasyaAllah, semua berkat pertolongan Allah. Operasi sesar yang saya jalani lancar, si bayi juga langsung nangis kencang saat diangkat keluar. Pertama kali dengar tangisannya itu rasanya haru luar biasa. Alhamdulillah.... ❤



***


Rasanya kadang seperti mimpi, ternyata saya sudah jadi mamak mamak hahaha. Mohon doanya semoga anak kami menjadi anak yang berguna, anak yang soleh. Dan saya juga masih belajar banyak sekali dari para mama-mama tentang "dunia baru" ini.

Oh iya, sekalian ngeluarin uneg-uneg nih. hahaha. Dari dulu saya suka gemes kalau dengar kalimat "belum jadi ibu kalau tidak melahirkan normal". Apalagi disertai kalimat yang menuding. Hehe. Menurut saya,tidak ada yang namanya "belum jadi ibu" kalau cuma dilihat dari proses melahirkan saja. Saya rasa mau apa pun proses persalinannya semua sama saja sakitnya, sama perjuangannya, sama persiapan proses melahirkannya. Jadi gak perlu dinyinyirin. Hehehe.

Terima kasih sudah menyimak cerita saya 😍


love,

You Might Also Like

7 comments

  1. Aaakk gemesnyaa.. Barakallah kak Minda dan suami, Semoga dek Arzan jadi anak sholeh dan membanggakan kedua orangtua ya. Aamiin :')

    ReplyDelete
    Replies
    1. MasyaAllah, makasi banyak Nes... :*

      Delete
  2. Alhamdulilah apapun prosesnya yang pneting mba Minda n D Arzan sehat 😍 ikut senang mba Minda aku jadi deg2an ninmenghitung hari hehehe

    ReplyDelete
    Replies
    1. Semangat Herva... InsyaAllah dilancarkan dan dimudahkan proses persalinanmu yaa.. :*

      Delete
  3. Selamat mbak minda, I feel you masalah sesar ini :D dulu saya sesar setelah bukaan ke empat karena ketubannya pecah dan ternyata warnanya keruh, jadi harus pasrah disesar, sampai nangis2 pun tetep aja harus rela nggak lahiran normal, tapi tetap bersyukur anaknya lahir sehat dan normal tanpa kekurangan satu apapun :)

    Selamat sekali lagi, nikmati keseruan jadi newbie mommy ya ^_^

    ReplyDelete
  4. Alhamdulillah seneng bacanya, selamat ya mba salam kenal juga dari Bandung😊

    ReplyDelete
  5. Halo Mba, setuju bgt.. banyak yg merasa kecil hati, sedih dll krn dikondisikan harus operasi SC utk melahirkan bayi. Pdhl harusnya ttp dinikmati seperti yg mba bilang. Yg penting bayi dan ibu sehat sempurna. Semoga bayinya sehat selalu yaa :) Salam kenal.

    ReplyDelete

Hi... Terima kasih sudah berkunjung ke blog ini. Mohon untuk tidak menggunakan seluruh artikel, foto dan video dalam blog ini tanpa izin. Silakan tinggalkan komentar kamu ya..

Enjoy the blog :)